Takwil Mimpi

Diposting pada
Huffingtonpost

Mimpi biasanya tidak selalu baik, namun juga pertanda akan hal yang sebentar lagi terjadi. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Saat kita tertidur mimpi-mimpi yang datang dengan beragam gambaran situasi baik atau buruk di alam bawah sadar.   Seringkali kita bertanya-tanya apa maksud atau arti dari mimpi tersebut.

Apakah ada hubungannya dengan kenyataan? Apakah boleh kita menakwilkan atau menafsirkannya?

Sesungguhnya mimpi yang baik datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala lah yang memberikan mimpi-mimpi indah dan membahagiakan bagi hamba-Nya untuk menghiasi tidurnya.Meski mimpi buruk adalah salah satu gangguan dari setan.

Sebelumnya, ketahuilah bahwa seluruh mimpi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah kebenaran. Bahkan, di antara wahyu yang Allah turunkan adalah melalui mimpi. Dan Rasulullah menceritakan atau mentakwilkan mimpinya seandainya mimpi itu baik dan bermanfaat.

Tetapi Rasulullah memerintahkan untuk tidak menceritakan atau mentakwilkan kepada orang lain, bahkan kepada orang terdekat sekali pun seandainya mimpinya itu tidak baik. Karena mimpi yang buruk datang dari setan yang mempermainkan diri dalam alam mimpi.

Jadi, yang boleh ditakwilkan atau diceritakan adalah mimpi yang baik saja. Bahkan, Rasulullah pernah menakwilkan mimpi baiknya.

Rasulullah sallallhu alaihi wasallam bersabda, “Aku gembira bila mimpi terikat dengan tali dan tidak suka bila mimpi dengan lehar terbelenggu. Tali adalah lambang keteguhan dalam beragama.”(HR. Muslim)

Ibnu Abbas mencakapkan, bahwa seorang lelaki menemui Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku semalam bermimpi melihat segumpal awan yanag meneteskan minyak satin dan madu. Kemudian aku melihat orang-orang menengadahkan tangannya pada tetesan tersebut. Mereka ada yang memperoleh banyak dan ada pula yang hanya memperoleh sedikit. Lalu aku melihat seutas tali yang terentaang dari langit hingga ke bumi kemudian melihatmu memegang tali tersebut lalu engkau naik ke atas. Kemudian ada seorang lelaki memegag tali tersebut setelahmu, dan naik ke atas. Ada juga seoraag lelaki laian memegang tali tersebut tetapi terputus, kemudian ssetelah disaambung lagi, lelaki itu naik ke atas.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *